Mengenai Saya

Kalau anda lunak pada diri anda kehidupan akan keras terhadap anda... Tetapi... Kalau anda keras terhadap diri anda kehidupan akan lunak terhadap anda... (Andrie Wongso)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Oscar Tabarez Berharap Wasit Netral

foto by: Donny
Jakarta Beritaphoto.com – Pelatih timnas Uruguay Oscar Tabarez berharap wasit yang akan memimpin pertandingan melawan timnas Indonesia di Geleora Bung Karno Jakarta, Jumat (8/10) netral selama pertandingan berlangsung.
“Kami bermain secara profesional. Seluruh pemain telah siap untuk diturunkan. Untuk itu kami berharap wasit bekerja sesuai dengan profesinya,” katanya di sela ujicoba lapangan Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis.
Pertandingan persahabatan Indonesia melawan Uruguay akan dipimpin wasit asal Singapura Abbas bin Daud, sedangkan wasit cadangan dipercayakan kepada wasit asal Indonesia, Setiyono.
Ditanya formasi yang diturunkan, Tabarez tidak menjelaskan dengan rinci. Namun demikian pihaknya akan menurunkan formasi terbaik sesuai dengan pemain yang telah tiba di Indonesia.
Pada pertandingan nanti, salah satu striker andalan selain Diego Forlan yaitu Luis Suarez akan dimainkan sejak menit awal dan akan didukung oleh Diego Lugano dilini belakang dan Edinson Cavani.
“Kami bawa 18 pemain dan 16 diantaranya skuad Piala Dunia 2010 lalu. Jadi kami akan menurunkan skuad terbaik pada pertandingan ini,” katanya menjelaskan.
Untuk masalah cuaca, pelatih yang membawa “La Celeste” ke semifinal Piala Dunia 2010 mengaku sedikit ada masalah. Cuaca di Indonesia cenderung panas dibandingkan cuaca dimana para pemain mengikuti kompetisi sepak bola profesional.
“Selain panas, kondisi pemain kelehanan. Tapi kami akan tetap memberikan permainan terbaik seperti saat di Piala Dunia lalu,” katanya menegaskan.
Untuk itu, kata dia, pihaknya berharap timnas Indonesia juga bermain secara profesional meski terkenal dengan memiliki permainan yang keras selama jalannya pertandingan.
(Donny/M.isa)

Jumat, 01 Oktober 2010

Pakai Sepeda, Cara Baru Aksi Teror Bom
Pelaku luka berat karena bom itu meledak setelah sepedanya menabrak pembatas jalan.

Jum'at, 1 Oktober 2010, 00:01 WIB                                                                                 Ismoko Widjaya
'Surat Jihad' pembawa bom rakitan di Kalimalang, Bekasi (VIVAnews/ Zaky Al Yamani)
VIVAnews – Satu bom rakitan meledak di depan Pasar Sumber Artha, ruas Jalan Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 30 September 2010, sekitar pukul 8.00 Wib. Berbeda dengan aksi bom yang kerap terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu, bom di perbatasan Jakarta-Bekasi itu dibawa pelakunya dengan sepeda. Bom meledak karena terjatuh, setelah sepeda menabrak pembatas jalan.
Bom itu meletup hanya beberapa meter dari Ajun Komisaris Polisi Heri, Kepala Unit Petugas Pengatur Lalu Lintas Polres Bekasi. Ledakannya, menurut saksi mata, terdengar keras dan mengagetkan warga, pengunjung pasar, serta Ajun Komisaris Heri yang tengah mengatur lalu lintas. Tak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Si pelaku, Ahmad bin Abu Ali, 38 tahun, menderita luka berat. Dia terjengkang oleh ledakan bom buatannya sendiri, tapi sempat bangkit dan mencoba kabur. Polisi Heri mengejar, dan lalu membekuknya. Selama dicokok, Ahmad tak henti-hentinya berteriak 'Allahu Akbar'.
Polisi sedang menyelidiki apakah pelaku berniat bunuh diri atau tidak. “Juga akan didalami orang itu waras atau tidak,” ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Timur Pradopo di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis 30 September 2010.
Pelaku menderita luka di pelipis kanan, leher, kaki, dada kiri, dan tangan kanan putus. "Kondisi dia membaik dan tengah dirawat di ruang ICU," jelas Timur. Dari cara yang digunakan, polisi menyimpulkan 'amatir', dibandingkan aksi teror bom di Jakarta sebelumnya. Target aksi Ahmad, diduga adalah polisi lalu lintas.
Meski tidak berdaya ledak tinggi, bom Ahmad itu memiliki tombol pemicu yang belum sempat digunakan. "Memang ada tombol, ada knop-nya. Ini hand made (buatan tangan) tapi belum terlalu canggih kelasnya agak amatiran," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Iskandar Hasan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis 30 September 2010.
Menurut Iskandar, saat ini Detasemen Khusus 88 Anti-Teror Mabes Polri sedang melakukan analisa terhadap bom itu. "Sedang diteliti bomb signature-nya. Kalau jenis seperti ini, rangkaian seperti ini, ini kelompok si a, si b atau kelompok mana. Kalau bomb signature, itu Densus yang tahu," kata dia.
Walaupun amatiran, Ahmad meramu bom itu dengan benda berbahaya seperti paku ukuran 5-7 sentimeter. Di tempat kejadian polisi mengumpulkan bukti sisa bahan peledak berupa mesiu dan karbit, dan pipa paralon.
Dari badan tersangka polisi mengaku mendapatkan dua carik kertas buku tulis yang bertuliskan “pesan” dari aksi itu.  "Bom Syahid Ini adalah untuk Kalian Semua Orang-orang Kafir. Kalian akan Kami Kejar Walaupun Kalian Lari ke Awan. Kematian Kalian itu Pasti. Mujahidin Masih Hidup di Indonesia,” begitu bunyi tulisan tangan berhuruf kapital dengan spidol hitam, pada lembar kertas pertama.
Pada carik kertas kedua tertulis: "Ini adalah Pembalasan pada Kalian, Sekutu-sekutu Setan. Membunuh, Menghukum mati dan Menahan Mujahidin. Kami Siap Mati untuk Agama yang Mulia ini."
Meski aksi teror ini dinilai amatiran, Polda Metro Jaya tetap waspada mengingat kasus serangan ke Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Tiga polisi tewas dalam serangan brutal itu. "Tapi kita belum sampai Siaga I," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar kepada wartawan, Kamis 30 September 2010.
Periset jaringan aksi terorisme, Sidney Jones, mengatakan belum pernah mendengar, dan mengenal nama Ahmad bin Abu Ali. Nama belakang 'Abu', bagi Sidney Jones, adalah jamak dilakukan orang-orang di jaringan aksi teror itu. “Para pelaku itu kadang menggunakan nama Abu, atau anak pertama mereka, di samping nama sebenarnya," kata Sidney, yang juga penasehat senior di International Crisis Group Asia Tenggara, kepada VIVAnews.com, Kamis 30 September 2010.
Hingga kini, kata Sidney, belum ada laporan para teroris yang mengaitkan aksi mereka dengan nama Ahmad alias Abu Ali. Nama itu tidak dikenal, dan di dalam jaringan diamati Sidney, juga tidak terdeteksi.  Jadi, "Saya tidak bisa menjelaskan Ahmad bin Abu Ali ini berasal dari jaringan mana," ujar Sidney. (np)

(VIVAnews.com)

Kamis, 30 September 2010

Wow, Stryper Meriahkan Java Rock'inland

Kamis, 30 September 2010 - 19:24 wib                                                      Tomi Tresnady - Okezone
Stryper (Foto: mamasfallenangels.com)
Detail BeritaJAKARTA- Stryper sudah mengkonfirmasi akan turut gabung di konser akbar Java Rock'inland.

Dalam situs resmi www.javarockingland.com, Stryper sudah menkonfirmasi untuk tampil di Java Rock'inland di hari ke tiga, Minggu (10/10/2010).

Band glam rock era 1983-1993 yang nge-hits dengan lagu "Honestly" ini digawangi oleh Michael Sweet (vocal, guitar), Oz Fox (gitar), Tim Gaines (bass), dan Robert Sweet (drum).

Setelah beristirahat lama, tahun 2003 band ini kembali aktif dengan melakukan konser reuni termasuk Indonesia menjadi salah satu tujuan penampilan mereka untuk tahun ini. Selain itu, merekapun sudah menandatangani kontrak album dengan label besar.

Stryper juga sudah mengumumkan akan segera merilis album baru. Sedikit bocoran, "The Covering" akan menjadi nama album mereka, dan dijadwalkan akan dirilis 13 Oktober 2010 nanti.
(uky)

Sinopsis film:LASKAR PEMIMPI

Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 membuat Sri Mulyani (Tika Project Pop) terbuang dari kampung halamannya di Maguwo, Jawa Tengah. Sri yang lugu mengembara sampai ke wilayah Panjen dan bertemu dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito (Gading Marten) yang sedang membuka pendaftaran anggota baru.
Bersama Sri hari itu, Udjo, putra seorang ningrat yang mendaftarkan diri karena diperdaya Wiwid (Shanty) gadis pujaan hatinya. Selain itu,  ada Ahok (Odie Project Pop) dan Tumino (Gugum Project Pop), pemuda desa dari wilayah sekitar Panjen. Mereka kemudian bergabung dengan Toar (Yosi Project Pop) pemuda rabun yang sudah lebih dulu menjadi gerilyawan, Kopral Jono (Dwi Sasono) yang sering diturunkan pangkatnya, dan Letnan Bowo (T. Rifnu Wikana) tangan kanan Kapten Hadi Sugito.
Sebelum Sri dan teman-temannya mendapat bekal bertempur yang memadai, pasukan KNIL di bawah pimpinan Letnan Kuyt sudah menyerang basis mereka, desa Panjen. Letnan Kuyt menculik Wiwid dan adiknya, Yayuk (Masayu Anastasia) hingga menimbulkan kemarahan Kopral Jono dan anggota baru gerilyawan Panjen.
Di bawah pimpinan Kopral Jono, laskar yang minim pengalaman itu nekad kabur dari markas untuk membebaskan teman-teman mereka. Dengan hanya mengandalkan keterangan dari Once (Oon Project Pop) tentara KNIL yang mereka tawan, dan laskar mbalelo itu menyerbu markas Letnan Kuyt. Akibatnya, mereka malah terdesak lalu ikut ditawan. Untunglah Letnan Bowo dengan pasukan Panjen lainnya menyusul  dan membebaskan mereka.
Ulah Kopral Jono dan anak buahnya itu membuat Kapten Hadi murka. Mereka dipecat dengan tidak terhormat. Hal ini membuat mereka tidak diikutsertakan dalam serangan besar ke Yogya tanggal 1 Maret 1949 yang dipimpin Letkol Soeharto. Tapi, semangat bertempur Kopral Jono dan para laskar terbuang itu tidak surut. Diam-diam mereka bergerak sendiri mencegat pasukan bantuan Belanda dalam suatu misi nekad, mereka dikenal sebagai pasukan elite oleh pasukan Siliwangi, dan turut mencatatkan sejarah sebagai pahlawan ugal-ugalan yang terlupakan.


Jenis Film : Comedy
Produser : Chand Parwez Servia
Produksi : Pt. Kharisma Starvision Plus
Pemain : Project Pop ,Dwi Sasonono,Shanty,Gading Marten,T Rifnu Wikana,Masayu Anastasia,Marcell Siahaan,Candil
Sutradara : Monty Tiwa
Penulis : Eric Tiwa ,Monty Tiwa
(donny-beritaphoto.com)

Rabu, 29 September 2010

Wow! Miyabi Ikut Berebut Piala Citra

Rabu, 29 September 2010 - 09:18 wib                                              Elang Riki Yanuar - Okezone
Detail Berita
(Foto:Ist)
JAKARTA - Ada yang beda di Festival Film Indonesia (FFI) 2010. Bintang porno Jepang Miyabi ikut bertarung di ajang film bergengsi itu demi menggondol Piala Citra.

Sejumlah rumah produksi (PH) diwakili produsernya secara simbolik menyerahkan film-film produksinya yang akan diikutsertakan dalam FFI 2010 yang akan digelar pada Desember 2010 di Batam.

Salah satunya dari Starvision yang secara simbolis menyerahkan delapan judul film. Sebut saja, film XXL, 18+, Affair, Seleb Kota Jogja (SKJ), Red Cobex dan Laskar Pemimpi.
Yang menarik adalah keikutsertaan film Menculik Miyabi. Produser Maxima Ody Mulya Hidayat menyerahkan empat judul film, seperti Air Terjun Pengantin, Mati Suri, Lihat Boleh Pegang Jangan dan Menculik Miyabi.
Menbudpar Jero Wacik yang ditemui di Kantor Kemenbudpar, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (28/9/2010) dalam acara peresmian Festival Film Indonesia (FFI), tidak mempersoalkan keikutsertaan Miyabi.

"Karena ini negara demokrasi, kita enggak bisa melarang banyak. Kita hanya bisa mengimbau kepada para produser untuk membuat film yang mendidik. Saya yakin tidak ada orang Indonesia yang ingin bangsanya hancur. Makanya, kita berjuang untuk itu lewat perfilman," jelas Jero.

Melihat perjalanan FFI yang sempat diwarnai aksi pengembalian Piala Citra, Jero berharap FFI tahun ini dan seterusnya berjalan lancar.

"Sekarang FFI diselenggarakan di Batam. Kalau saya jadi wali kota, saya pasti mau kota saya yang jadi tuan rumah FFI. Daripada buat baliho besar untuk pemilukada, mendingan buat acara FFI ini kan. Pasti tidak akan rugi," katanya.(ang).

Rabu, 08 September 2010

Sinopsis film: Sang Pencerah

Sepulangd dari mekah, Darwis mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat islam yang melenceng ke arah Bid’ah.  Karenanya, islam dipandang sebagai agama mistik oleh eropa (Belanda) dan kamu moderat.
Melalui keinginan Ahmad Dahlan membuka sekolah yang menyadarkan bahwa islam tidak hanya berkutat soal tauhid, tetapi juga mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan. Bagi Ahmad Dahlan kemiskinan disebabkan karena kebodohan. Berangkat dari gagasan itulah maka dia memulai kiprahnya.
Diawali dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan para kyai fanatik sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Juga dicap kafir karena membuka sekolah yang menggunakan kursi. Dia juga dituduh sebagai kejawen karena dekat dengan kalangan cendekiawan di Budi utomo.
Tetapi tuduhan tersebut tidak menyurutkan niat Ahmad Dahlan. Dengan ditemani istri tercinta Siti Walidah dan 5 orang muridnya, Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan untuk mendidik umat islam untuk berpikiran maju sesai dengan perkembangan zaman.


Pemain : Lukman Sardi, Slamet Raharjo, Zaskia, Adya Mecca, Ihsan Tarore, Giring, Nidji, Yati Surachman, Sujiwo Tedjo
Sutradara/Skenario/Cerita : Hanung Bramantyo
Produser : Raam Punjabi

(Rudolf – Beritaphoto.com)

Sinopsis film:Dawai 2 Asmara

beritaphoto.comJakarta, BeritaPhoto.com – Film yang disutradarai oleh Asep Kusdinar & Endri Pelita ini menceritakan tentang rumitnya percintaan Thufa (Cathy Sharon) antara memilih Penyanyi Dangdut (Ridho Rhoma) dengan Penyanyi Pop (Delon). Siapakah yang akan Thufa pilih???
Sinopsis
Ridho, yang sedang menuntut ilmu di negeri seberang, dipanggil pulang oleh ayahnya, Rhoma Irama untuk melanjutkan perjuangannya: memberi “Nuansa Baru” pada music asli Indonesia,yaitu Music Dangdut. Tidak dipungkiri, music Dangdut memang terbuka untuk menyerap berbagai unsur music. Apakah Ridho berhasil memberi nafas baru bagi Music Dangdut?
Di sisi lain kehidupannya, Ridho dihadapkan pada sebuah pilihan asmara, akankah ia memupuk kembali cintanya pada Thufa, teman semasa SMPnya ataukah ia akan menyemai benih-benih cinta baru dengan Haura,seorang siswi dari Australia yang sedang meneliti Musik Dangdut di Indonesia?
Sementara itu, Thufa, sabelum bersua kembali dengan Ridho, manjalani kehidupan menantang seorang wanita muda berkarya dengan didampingi oleh seorang penyanyi muda berbakat, Delon sebagai teman dekatnya.
Dengan hadirnya kembali Ridho dalam hidupnya, Thufa pun merasa bimbang. Siapa yang akan ia pilih: Ridho, yang selalu menimbulkan getar-getar halus di hatinya atau Delon, yang selalu memberikan rasa aman ketika bersamanya?
Kisah Ridho,Thufa, Delon, Haura, semakin rumit dengan kehadiran Brutus, salah seorang ‘fans berat’ Rhoma Irama sejak dulu yang mencoba segala cara untuk “bersentuhan” dengan ‘Sang Raja Dangdut Indonesia’ .


Jenis Film : Drama/musical
Produser : Erna Pelita
Sutradara: Endri Pelita & Asep Kusdinar
Pemain : Rhoma Irama, Ridho Rhoma, Cathy Sharon, Delon Thamrin, Pepeng “Naif”, Emily Graham
Produksi : Rumah Kreatif 23
(Reporter : Donny Pratama)